Kamis, 24 Maret 2016

Cerpen Bahasa Indonesia "Kekuatan Hidup"

*Kekuatan Hidup*

Kisah ini adalah tentang perjalanan kehidupan seorang remaja yang bernama Said, ia adalah anak yang begitu pandai, aktif, rajin, beribadah dan taat kepada orang tua. dia lahir di Padang Sumatera barat, sekarang ia besarpun tetap berada di Padang, ia tinggal bersama ibunya di pinggir pantai mendiami rumah panggung yang kecil, terbuat dari bilik bambu.

Pada suatu hari setelah ia pulang sekolah ia melihat ibunya sedang berbaring lemas
"Bu, ada apo dengan ibu, apakah ibu sakit??" tanya said sambil menatap muka ibunya
"engga Said, ibu tak sakit, cuma kelelahan saja. sudah kamu jangan khawatir, lebih baik kamu makan setelah itu pergi berangkat mengaji sanah" ucap ibu.
Said hanya menganggukan kepala dan langsung menuruti perintah ibunya.
"Bu, said berangkat mengaji dulu yah" ucap Said kepada ibunya
"Iyah said hati-hati di jalan" ucap ibu kepada Said sambil tertidur di ranjang kecilnya

Saidpun pergi mengaji. Setibanya di pengajian ia langsung membaca Al-Quran dengan suara yang teramat merdu.
"Said, suara kamu dari dulu itu gak pernah berubah yah, tetap bagus-bagus sajah" ujar teman Said yang bernama Anwar ketika di depan mushollah
"Alhamdulillah Anwar. Kata ibu aku, aku ituh seperti bapak aku yang muadzin di kampung ini tapi sayangnya sekarang bapak aku sudah dipanggil duluan sama Allah swt" ucap Said dengan suara agak sedikit menahan rasa sedinya
"Sabar yah Said, kamukan masih punya Ambu(aku) yang masih sayang sama kamu" ucap Anwar sambil menepuk bahu Said seraya menyemangati Said
"Iyah aku selalu mengikhlaskan kepergian bapak aku ko, Anwar"
"Yasudah, ikut aku yuk naik motor kita jalan-jalan sore" ajak Anwar kepada Said
"Tapi aku belum izin sama ibuku"
"Udahlah gapapa Said, sekali-kali doang ko" ucap Anwar sambil merayu sih Said
"Oke deh, aku mau tapi jangan lama-lama yah" ucap Said kepada Anwar
"Siap bos" jawab Anwar kepada Said

Tak lama kemudian Said mengikuti dan mau menuruti ajakan temannya, Anwar.
tak seperti biasanya Said pergi tidak meminta izin kepada ibunya. said pergi membawa motor Anwar dan memboncengnya yang kala ituh Said baru bisa mengendarai sepeda motor
Tak lama kemudain ketika Said dan temannya di persimpangan jalan yang mau keluar dari daerah kampung Said. Tiba-tiba ada kendaraan Truk besar di belakangnya sedang melaju kencang tepat kearah Said, lalu Truk besar itupun menabrak bagian belakang motor said dan menyerempetnya.
Kecelakaan besarpun terjadi Said terpental kesemak-semak yang dipinggir jalan dan Anwar berada dibagian bawah kolong Truk itu.
Warga sekitarpun terkejut akan kejadian tersebut dan beramai-ramai menolong para korban, korban kecelakaan tersebut yaitu Said dan Anwar. Anwar telah ditemui  dan meninggal ditempat dengan seketika, sedangkan Said berada di semak-semak dengan luka yang begitu parah dibagian kepalanya berlumuran darah, telinga dan hidungnya mengeluarkan darah, kakinya mengalami patah tulang.
Said dalam keadaan lemah dan tak berdaya, wargapun langsung membawa Said kerumah sakit terdekat.

Ibu Saidpun datang kerumah sakit setelah mendapatkan informasi dari warga bahwa Said mengalami kecelakaan. Ibu Saidpun tak percaya bahwa selama ini yang ibu tahu Said  ituh tidak bisa naik motor dan tidak pernah  keluyuran tanpa dari sepengatahuan ibunya, ternyata Said selama ini belajar motor dari sahabatnya, Anwar.
Ibu Said menangis tiada henti melihat anaknya kritis di Ruangan Rumah Sakit.
Sudah satu pekan Said tak kunjung sadar, dokter bilang Said hanya mempunyai kesempatan hidup 50% sajah, dan ketika Said sadar ataupun sembuh ia tidak akan kembali normal seperti biasanya karena kaki kanan yang patah telah diamputasi oleh dokter. tak berapa lama kemudian Said sadar ketika sudah satu minggu ia mengalami kritis, ibunya cemas melihat keadaan Said saat ini.
Tiga hari setelah Said sadar kondisi Saidpun kian membaik dari hari-kehari, dia tidak tahu kalau sahabatlamanya ituh telah pergi selama-lamanya, dan ia mengetahui bahwa sekarang ia sudah tidak memiliki satu kaki keadaan Said yang dulu ituh berbeda dengan yang saat ini Said kebanyakan melamun.

Hari selanjutnya Saidpun diizinkan pulang oleh dokter.
        *Sesampainya dirumah*
"Said makan dulu yah kamukan belum makan"ucap ibu
Said tidak merespon omongan ibunya, sekarang Said seperti sudah tidak punya semangat hidup, ibu said tidak tahu harus berbuat apalagi yang ibu said lakukan saat ini tidak bisa merubah keadaan dan kondisi Said yang sekarang.
"Said ibu kangen banget sama suara adzan dan ngaji kamu nak yang begitu bagus dan merdu saat kamu melantunkannya, said sayang ibukan? kalau said sayang ibu ayook semangat dong saidnya, apa said malu kalau sekarang said tidak bisa berjalan, said malu kalau tidak punya kaki? kalau said malu ibu siap senasib dengan kamu, atau kalau ada warga yang ngatain, yang meremehkan kamu, biar ibu yang omelin atau Said mau ibu masukin ke pondok? itukan mau kamu, kamu dari dulu ingin masuk pensantren tapi ibu gak ngasih izin karena ibu takut kesepian kalau gada kamu" ucap ibu sambil meneteskan air mata
"Tapi said malu kalau said masuk ke pesantren.Kenapa coba ibu dari dulu ga ngasih izin Said, sekarang pas Said sudah tidak bisa berjalan baru ibu ngasih izin ke Said" jawab Said dengan nada kencang dan agak kesal kepada ibunya
"kenapa harus malu? Said kan ingin menjadi ulama besar, kalau Said menuruti kemaluan Said, impian itu tidak akan tercapai dan hanya akan menjadi angan-angan sajah, santri itu bukan cuma belajar mengaji dipondok tetapi dia juga belajar tata krama, kelakuan, sopan santun, pasti Said tahu tentang hal itu, jadi tidak mungkin mereka membenci, ngata-ngatain Said, malah mereka kagum sama kamu yang mau berusaha dan mempunyai impian besar, cerdas dan tidak pernah malu akan kondisi kamu yang seperti ini" ujar ibu sambil menyakinkan Said
        Saidpun terbuka hatinya untuk masuk kepondok pesantren
"ibu yakin akan hal itu?"ucap said sambil menangis
"iya, ibu yakin, mulai besok Said akan ibu masukin ke pondok pesantren Al-Azhar yah" ucap ibu sambil tersenyum kepada Said
"tapi masuk kepondok itukan gak gratis" ucap said
"ga usah khawatir tentang hal itu, nak" ucap ibu sambil tersenyum sedu :')
"tapi nanti ibu akan sendirian dong dirumah" ucap Said
"iya, tapi ibu gabakalan sedih karena kamu senang dan sebentar lagi bakalan jadi ulama" ujar ibu untuk menyakinkan Said

Singkat cerita Saidpun telah menjadi ulama besar dia sibuk kesana-sini karena banyak dipanggil untuk berceramah, syiardi dijalan Allah swt.
Dengan keadaan dia yang seperti itu tak membuatnya gentar dan malu, rasa malunya pun hilang karena ditelan oleh kebanggan.

Bagikan

Jangan lewatkan

Cerpen Bahasa Indonesia "Kekuatan Hidup"
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Jangan lupa tinggalkan komentar yah :)