Translate

Kamis, 22 Desember 2016

Makalah : Kejanggalan Perfilman di Indonesia

Karya Tulis Ilmiah
Kejanggalan Film Indonesia
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Bahasa Indonesia



Disusun Oleh
Nama Kelompok  :
1.  Fitri Handayani
2.  Nia Kurnia
3.  Cindy Claudia
4.  Sifa Khoriyah


Smp negeri 2 Teluknaga
Tahun Pelajaran 2015/2016
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana telah memberikan kami semua kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makalah ulasan film “Kejanggalan dalam Film Indonesia”, dapat selesai  seperti waktu yang telah kami rencanakan. Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Ibu guru pembimbing  mata pelajaran Bahasa Indonesia
2.      Orang tua yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan
3.      Teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini dapat di selesaikan
Selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan kami, makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Makalah ini membahas tentang ulasan film “Kejanggalan Film di Indonesia”. Tak ada gading yang tak retak kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan, dan penulisan. Maka kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.
Semoga makalah tentang ulasan film “Kejanggalan Film di Indonesia” dapat  bermanfaat bagi kami dan para pembaca.







Jepara, 21 Mei 2015



                                                                                                                                   Penyusun


ii



DAFTAR ISI
Halaman Judul ………………………………………………………………………………………………………………i
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………………….…ii
Daftar Isi ……………………………………………………..………………………………………………………………..iii
BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………………..1
B.      Perumusan dan Ruang Lingkup Masalah……………………………………………………………………1
C.      Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………………………………1
BAB II Pembahasan
A.      Sejarah dan Perkembangan Film di Indonesia…………………………………………………………….2
B.      Kejanggalan Film Indonesia……………………………………………………………………………………….4
1. Setting …………………………………………………………………………………………………………………..4
2. Dialog……………………………………………………………………………………………………………………5
BAB IIIPENUTUP
A.      Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………….6
B.      Saran…………………………………………………………………………………………………………………...6
C.      Daftar Pusaka ……………………………………………………………………………………………………...7








iii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa tahun belakangan ini, perfilman Indonesia mulai bangkitkembali. Sebelumnya, film-film Indonesia tidak mendapatkan tempat di hati penontonnya, tergilas dengan film-film Holywood yang masuk ke Indonesia. Namun, perfilman Indonesia kini mulai kembali menggeliat dan mencoba mencaritempat di hati penonton negerinya sendiri. Hal ini terbukti dengan meningkatnya produksi film, yaitu meningkatnya frekuensi kemunculan film-film baru. Ambilsaja film “Pocong” sebagai contoh, film misteri yang belum sempat tersebar luasdi bioskop-bioskop Indonesia karena konflik dengan Lembaga Sensor Film ini,dalam waktu singkat mengeluarkan sekuel filmnya “Pocong 2”. Selain itu, film-film Indonesia juga mulai mendominasi bioskop-bioskop di Indonesiadibandingkan film luar negeri. Saat ini amper 75% film yang yang ditayangkandi sebuah bioskop adalah film Indonesia. Misalnya di bulan Mei ini di DaanMogot Theatre, dari tiga studio yang dimilikinya dua di antaranya memutar filmIndonesia, yaitu “Angker Batu” dan “Naga Bonar”, dan lainnya adalah filmHolywood “Spiderman”. Kemudian, minat penonton Indonesia terhadap terhadapfilm buatan negerinya sendiri juga mengalami peningkatan. Sebagai contoh, filmyang berjudul “Berbagi Suami”, pemutaran filmnya amper selama satu bulan bertahan di Daan Mogot Theatre. Ditambah lagi menjamurnya sineas-sineasIndonesia yang berbakat dan potensial dalam mengemas sebuah cerita ke dalamfilm sehingga mampu membangkitkan gairah penonton Indonesia untuk menonton film buatan negerinya sendiri.
1.2Perumusan Masalah (Ruang Lingkup Masalah)
Seperti yang dikutip dari situs Wikipedia, “film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie (semula plesetan untuk ‘berpindah gambar’) yang dihasilkandengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figure palsu) dengankamera, dan/atau oleh animasi”.
Film dapat dibagi menjadi dua, yaitu film fiksidan non-fiksi. Film-film non-fiksi meliputi film documenter, ilmu pengetahuan,eksperimental, dan animasi. Sedangkan film fiksi meliputi film drama, filmkomedi, dan lain sebagainya.Film yang baik adalah film yang memiliki dan memenuhi unsur-unsur film, seperti plot, karakter, tema, dan setting, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hal yang harus dipenuhi untuk membuat penonton tertarik untuk menonton sebuah film, yaitu memiliki cerita yang menarik, karakter-karakter yang unik, atau mungkin juga setting  dari film tersebut.
1.3Tujuan Penulisan
Tujuan penulis menyusun makalah ini, yaitu penulis akan mencobamemberikan penjelasan tentang kejanggalan yang dapat ditemukan dalam sebuahfilm sehingga dapat menyebabkan penonton film tersebut merasa tergangguterhadap kemunculan kejanggalan tersebut.

1
Bab 2
Pembahasan
2.1 Sejarah dan Perkembangan Perfilman Indonesia
Jika dihitung-hitung usia perfilman Indonesia sudah mencapai umur lebihdari 80 tahun. Film Indonesia pertama kali dibuat pada tahun 1926 olehseorang Belanda Heuveldorp bersama dengan seorang Jerman Kruger yang berjudul “Loetoeng Kasaroeng” yang dibuat di Bandung.
“LoetoengKasaroeng” inilah awal mulanya perfilman Indonesia dimulai, walaupun tidak dibuat oleh anak negeri sendiri namun pemeran, cerita, dan setting yang dipilih adalah seluruhnya asli Indonesia. Kehidupan perfilman Indonesia pada tahun 60-an mengalami kelesuan.Kondisi politik dan ekonomi saat itu sangatlah tidak mendukung produktifitas para pembuat film. Pada periode tersebut tidak hanya film saja yangkehilangan gigi, namun hampir semua bidang seni mengalami kesuraman.Dikarenakan isu-isu politik yang sempat mencekam sehingga kreatifitas paraseniman tidak dapat diaktualisasikan dengan bebas.Keadaan berubah pada tahun 70-an, angin segar berhembus pada para pembuat film.
Pada periode ini para seniman bebas berekspresi, khususnya bagi mereka yang bersentuhan dengan bidang perfilman. Dengandikeluarkannnya Kep. No. 71 Th. 1971 oleh Menteri Penerangan Budiharjo pada masa itu, maka produktivitas film meningkat pesat. Kebijakan tersebutmemperbolehkan para produser untuk meminjam uang sejumlah setengah dari biaya produksi film. Uang tersebut merupakan uang pemerintah yangdidapatkan dari pungutan dari film-film impor. Film-film impor yang masuk Indonesia pada waktu itu diharuskan menyerahkan sumbangan wajib demi perkembangan perfilman nasional.
Akibat adanya kebijakan tersebut,disamping meningkatnya produksi perfilman , juga terdapat dampak negatif  pada proses produksi perfilman, seperti kru film yang memiliki tugas yang overlapping,
ketika satu orang mengerjakan beberapa tugas yang seharusnyadikerjakan oleh sebuah tim. Namun bagaimanapun juga, film “Bernafas dalamLumpur” produksi Sarinande arahan sutradara Turino Junaidi sukses di pasaran dan menjadi tonggak bangkitnya perfilman Indonesia.
Beberapanama sutradara potensial yang berusaha membangun kembali citra filmIndonesia pada periode itu, yaitu Wim Umboh, Asrul Sani, Teguh Karya,Syumandjaya, Nico Pelamonia, Ami Priyono, Wahyu Sihombing Arifin C. Noer, dan Nya Abbas Akub.
Ppada tahun 80-an perfilman Indonesia sudah dapat tampil lebih baik.Film-film yang digarap sudah mulai berani untuk bereksplorasi lebih dalam,misalnya dengan melakukan syuting di luar negeri. Selain itu, para pembuatfilm juga sudah mampu membuat film-film kolosal, seperti “ November 1828” atau “ Sunan Kalijaga”.
2
Walaupun teknik-teknik yang digunakan belum sesempurna film-film luar negeri, namun mereka sudah dapatmenggunakan efek-efek khusus dalam film mereka, seperti dalam film“Pasukan Berani Mati” atau “Lebak Membara”.
Dalam periode ini, pemerintah tidak hanya mendukung perkembangan film Indonesia dari segi produktifitasnya saja, namun juga dalam hal kualitasnya. Perwujudan tersebutdapat dilihat dengan keluarnya SK Menteri RI No. 216/Kep/Men/1983mengenai Dewan Film Nasional.
Dewan Film Nasional inilah yang berfungsisebagai pendamping Menteri Penerangan Nasional dalam melakukan pembinaan perfilman nasional.Perfilman Indonesia pada tahun 90-an sampai dengan 2002 agak memprihatinkan. Produktifitas film menurun dikarenakan lagi-lagi masalahekonomi. Pada masa itu krisis ekonomi sedang melanda Indonesia, yang berpuncak pada penurunan nilai tukar rupiah yang drastis pada tahun 1998.Film yang muncul sedikit sekali dan itupun harus bersaing dengan film-filmluar negeri. Menurut data Sinematek Indonesia, film yang diproduksi padatahun 1998 ada 4 film, tahun 1999 ada 3 film, tahun 2000 ada 3 film, dan padatahun 2001 ada 4 film.
Lima tahun belakangan ini keadaan perekonomian sudah dapat dikatakanagak stabil. Perindustrian film juga mulai menata kembali dirinya.Kebangkitan perindustrian film ini dimulai dengan munculnya sineas-sineasmuda. Pada awalnya mereka membuat film-film pendek yang ditayangkan ditelevisi dengan durasi dua jam dikurangi durasi tayangan iklan yang kemudiandisebut sebagai Film Televisi (FTV). Film-film yang mereka buat cukupmengagetkan karena tema yang mereka angka walaupun hanya tema-tema percintaan, entah cinta remaja atau cinta keluarga, dikemas dengan apik.Teknik-teknik pengambilan kamera, penyusunan dialog, pemilihan setting ,dan pemunculan karakter-karekter bisa dibilang sangat baik. Kemudian, perkembangan ini sampai sekarang sudah mulai merambah ke jenjang yanglebih tinggi, yaitu film bioskop.Delapan puluh tahun bukanlah waktu yang panjang bagi perfilmanIndonesia untuk terus tumbuh dan berkembang. Selama delapan puluh tahun jatuh bangunnya film Indonesia merupakan sebuah usaha untuk menunjukkaneksistensinya.
Dimulai dari seorang Belanda dan seorang Jerman, filmIndonesia berusaha untuk terus memperpanjang jalan dan umurnya. Dansekarang film Indonesia mulai menapaki jalan barunya dengan bertumpu pada para sineas muda berbakat untuk dapat memunculkan eksistensinya di luar sana agar tak kalah dengan film-film luar negeri.





3
2.2 Kejanggalan Film Indonesia
Kondisi perekonomian yang sudah mulai stabil turut membangun suasana bangkitnya perindustrian film Indonesia. Jika diperhatikan pembuatan filmIndonesia mengalami kemajuan, hampir semua aspek-aspek pembuatan filmdapat dikuasai dengan baik, seperti teknik-teknik pengambilan gambar, pemilihan tema cerita, pemilihan aktris dan juga musik pendukung. Selain ituditambah dengan kemunculan para sineas muda yang berbakat dan potensialyang telah memperdalam ilmunya di luar negeri yang siap untuk mengemascerita ke dalam sebuah film.Faktor-faktor seperti modal dan kemampuan sepertinya sudah lengkapdidapatkan untuk dapat membuat karya-karya film yang siap diterima olehmasyarakat Indonesia sebagai tanda bangkitnya kembali film Indonesia.. Namun sayang, seperti peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”,ketidaklogisan akibat munculnya kejanggalan-kejanggalan kecil dalam sebuahfilm seperti melunturkan betapa berat perjuangan dalam membuat sebuahfilm. Ada dua kejanggalan yang sering kali muncul dalam film-film Indonesiasampai saat ini, yaitu kejanggalan pada setting  dan dialog.
1.     Setting

Setting merupakan sebuah latar belakang, baik waktu maupun tempat,terjadinya sebuah cerita dalam sebuah fim.
Pemilihan setting , khususnya tempat untuk mendukung atau membangun sebuah suasana dalam film,dapat dikatakan sudah sangat baik dalam beberapa tahun belakangan ini.Contohnya dalam film “Bintang dari Surga”, sutradara dari film ini Sekar Ayu Asmara lebih memilih Yogyakarta sebagai setting  tempat daripada Jakarta, agar dapat membangun suasana cerita dengan lebih baik. Dibalik pemilihan tempat dan waktu sebagai setting, sering terjadiketidakcocokan antara setting  tersebut dengan detail-detail yang ada dalamfilm tersebut. Misalnya ada ketidakcocokan antara peralatan canggih dengan setting  waktu, atau ketidakcocokan antara setting  tempat dengan setting  waktu itu sendiri.
Coba bayangkan bila ada sebuah film yangmenampilkan adegan seseorang yang menggunakan sebuah pager, padahalkejadiannya mengambil waktu pada tahun 2004. Sedangkan kita semuatahu bahwa pager di awal tahun 2000-an sudah tidak muncul lagi.
Makadengan munculnya pager  dalam adegan ini, film kelihatan tidak logisakibat kejanggalan tersebut. Contoh yang paling konkrit ada pada film “Mendadak Dangdut”,film yang dibintangi oleh Titi Kamal dan Kinaryosih ini memiliki sebuahkejanggalan yang penulis anggap cukup fatal, karena mengakibatkan cerita menjadi tidak logis. Seperti yang dikutip dari sebuah ulasan tentang film ini dalam sebuah situs di internet, “…bagaimana mungkin seorang bintang penyanyi terkenal menjadi buronan polisi bersembunyi dalam sebuah kampung kecil dan tidak ada seorang pun dari warga kampong tersebut mengenalinya”.

4
Dalam realita, hal tersebut memang sangat tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin ada seorang pun yang tak dapatmengenali seorang artis penyanyi terkenal yang bersembunyi dikampungnya, padahal banyak media massa elektronik dan cetak di mana-mana. Selain itu, kampung yang menjadi setting tempat kejadian ceritatersebut hanyalah sebuah kampung di pinggiran kota yang masih memilikiakses informasi yang cukup luas. Kecuali, jika kampung tersebutmerupakan sebuah kampung yang benar-benar tertinggal, seperti di pedalaman Papua, maka sangat memungkinkan tak seorangpun dapat mengenalinya. Sungguh disayangkan jika sebuah cerita menarik menjadirusak hanya karena kejanggalan kecil.
2.     Dialog
Dialog sangat berperan penting dalam sebuah film. Adanya dialog-dialog dalam film sangat membantu membangun suasana cerita danmembuat film lebih hidup. Dengan adanya dialog, penonton dapatmengerti akan jalan cerita dari sebuah film, dan juga dapat membawa penonton serasa terlibat dalam film tersebut.
Dialog-dialog dalam sebuah film biasanya ditulis oleh penulis skenario.
Penulis skenario mempunyai tugas yang sangat berat, karena ia harus menyusun dialog per dialog sehingga dapat dirangkai menjadisebuah cerita yang utuh.
Namun, menurut pendapat penulis, keahlian penulis skenario film Indonesia bisa dibilang masih lemah. Banyak kekurangan-kekurangan yang membuat dialog menjadi janggal, tidak masuk akal, dan kurang dapat dinikmati.
Ada beberapa film Indonesia yang memiliki dialog yang kurang baik dan kurang dapat dinikmati. Misalnya dialog-dialog yang dibuat terlalu pendek-pendek, atau jeda waktu yang terlalu panjang antara satu dialog dengan dialog yang lain yang tidak mampu membangun suasana cerita dalam film tersebut. Contoh lain yang paling jelas dapat ditemukan dalam fim “BanyuBiru” yang dibintangi oleh Tora Sudiro. Kejanggalan dialog terdapat pada sebuah adegan dalam sebuah gerbong kereta api yang berjalan.
Saat itu Banyu sedang dalam perjalanan menuju rumah ayahnya dan duduk  berhadapan dengan seorang lelaki tua. Dalam film tersebut ada dialog yang dilakukan oleh kedua tokoh tersebut.
Lelaki tua tersebut bertanya mengenai tujuan Banyu, yang kemudian dijawab oleh Banyu bahwa ia ingin menemui ayahnya yang sudah sepuluh tahun tak ditemuinya. Anehnya, lelaki tua itu berkomentar bahwa sungguh wajar seorang anak memiliki masalah dengan orangtuanya.
Sungguh janggal, seolah-olah lelaki tua tersebut telah mengetahui bahwa Banyu memang memiliki masalah dengan ayahnya.
Padahal dalam realita, jika seorang bertemu dengan orang asing tentu saja orang asing tersebut mungkin akan bertanya lebih jauh mengapa sudah lama tak bertemu dengan ayahnya, atau mungkin bertanya hal yang lain, namun tidak langsung berkomnetar seperti diatas.
Dua kejanggalan dari sekian kejanggalan lain yang sering muncul di dalam sebuah film akan menimbulkan dampak yang negatif terhadap kepuasan penonton. Bagi mereka yang kritis dalam menonton sebuah film,kejanggalan-kejanggalan yang muncul akan sangat mengganggu mereka.
5
Bab 3
Penutup
3.1            Kesimpulan
Perfilman Indonesia sudah berumur lebih dari 80 tahun. Delapan puluhtahun merupakan waktu yang panjang untuk puas berkarya dalam seni,khususnya bagi perfilman Indonesia. Perfilman Indonesia masih punya waktuyang lebih panjang daripada itu. Selama itu perfilman Indonesia masih harus terus beljar sambil berkarya untuk menciptakan karya yang masterpiece.
Masih banyak kejanggalan-kejanggalan kecil muncul dalam film Indonesia yang harusdihilangkan . Karena, disadari ataupun tak disadari oleh penontonnya, hal tersebut berakibat pda kepuasan mereka terhadap film tersebut.
3.2      Saran
Meningkatnya produksi perfilman yang berarti perfilman Indonesiasedang beranjak dari tidur menuju kebangkitanya memang menggembirakan. Namun, masih ada yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sebuah film.Ketelitian sangat diperlukan dalam pembuatan sebuah film yang bagus, terutama dalam pemilihan setting.
Sebaiknya pembentukan komposisi antara setting  baik waktu dan tempat perlu lebih diperhatikan dan lebih teliti lagi. Agar tidak munculkegajilan-keganjilan yang mengganggu. Begitu pula dalam dialog, sekali lagiketelitian sangat diperlukan disini. Karena sebuah dialog aneh muncul, atau dialogyang tidak pas dengan situasi cerita akan sangat mengganggu para penonton yang menontonnya.










6
Daftar Pusaka
Cetak
Departemen Penerangan RI. Festival Film Indonesia 1985-1990. Jakarta: DirektoratPublikasi Direktorat Jenderal PPG Departemen Penerangan RI, 1991Mohamad, Goenawan. Seks, Sastra, Kita. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1981Irawanto, Budi. Film, Ideologi, dan Milier. Yogyakarta: Media Pressindo, 1999Prananto, Jujur.  Sebuah Skenario Jujur Pranant Ada Apa dengan Cinta. Jakarta: Metafor,2002
ELEKTRONIK
Bintag dari Surga”. http:/wiwienwintarto.multiply.com/tag/film (23 April 2007) 12.30WIB“
Cewe Matrepolis”. http:/wiwienwintarto.multiply.com/tag/film (23 April 2007) 12.30WIB“
 Issue”. http:/wiwienwintarto.multiply.com/tag/film (23 April 2007) 12.30 WIB“
Mendadak Dangdut”.http:/wiwienwintarto.multiply.com/tag/film (23 April 2007) 12.30WIB“
Festival Film Indonesia”. http:/id.wikipedia.org/wiki/Festival_Film_Indonesia (23 April2007) 12.30 WIB“
Film Indonesia Masa Kini, Lemah Tema dan Cerita”. http:/www.suarapembaruan.com/News/2005/10/25/Hiburan/hib01.htm (23 April2007) 12.30 WIB“
Perfilman Indonesia”. http:/id.wikipedia.org/wiki/Perfilman_Indonesia (23 April 2007)
Download Makalah Versi Word [.doc]

Bagikan

Jangan lewatkan

Makalah : Kejanggalan Perfilman di Indonesia
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Jangan lupa tinggalkan komentar yah :)